Sabtu, 28 Mei 2011

Tidur dan tertawa.
Tidur yang yang dibenci Allah, yaitu :
1. Tidur di majlis dzikir.
2. Tidur sesudah solat Subuh.
3. Tidur sebelum solat Isya’

Tertawa yang dibenci Allah , yaitu :

1. Tertawa dibelakang mayit.
2. Tertawa di majlis dzikir.
3. Tertawa di atas kubur.

Abu Laits Samarqondi.
Kata Al Faqih :” Barang siapa duduk bersama 8 macam manusia , maka bertambah pula 8 macam sifat , yaitu :
1. Duduk bersama orang kaya bertambah cinta harta.
2. Duduk bersama orang miskin , bertambah syukur dan rela atas pemberian Allah.
3. Duduk bersama penguasa , bertambah keras hati lagi sombong.
4. Duduk bersama anak-anak , bertambah senang bermain dan bergurau.
5. Duduk bersama pelacur , bertambah berani berbuat ma’siyat dan menunda-nunda tobat.
6. Duduk bersama orang soleh , bertambah tekun ibadah dan menjauhi ma’siyat.
7. Duduk bersama wanita , bertambah bodoh dan syahwat serta condong pada pikiran mereka.
8. Duduk bersama ulama bertambah ilmu dan taqwa.
Demikianlah saudara-saudara kalau kita berkawan dekat dengan 8 macam manusia tersebut kita akan mendapatkan 8 sifat tersebut. Maka marilah kita pilih-pilih macam manusia yang akan kita jadikan teman dekat kita.

Sumber dari Kitab Tanbihul Ghofilin.

Sabtu, 21 Mei 2011

Pantun

1. Pengertian Pantun

Pantun merupakan karya sastra berbentuk puisi lama yang mementingkan keindahan bahasa, pemadataqn makna kata, dan penulisannya berbait-bait. Pantun merupakan salah satu bentuk puisi lama peninggalan masyarakat Melayu.

2. Manfaat Pantun

Pada masa dahulu, pantun digunakan secara luas dan diciptakan untuk bermacam-macam kepentingan seperti untuk menyampaikan nasihat atau petuah, menyatakan perasaan kasih saying, mengenalkan dan menanamkan budi pekerti, mengembangkan pranata sosial, dan juga untuk menciptakan humor.

Pada masa kini, penggunaan pantun lebih terbatas, misalnya mengisi acara televise untuk edisi siaran khusus pada bulan ramadhan, acara gembira pada saat perkemahan, atau upaya kreatif seorang pembawa acara untuk menciptakan suasana tertentu.

3. Syarat –syarat Pantun

a. Satu bait terdiri dari empat baris

b. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran

c. Baris ketiga dank e empat merupakan isi pantun.

d. Setiap baris terdiri atas 8-12 suku kata

e. Pada bagian akhir pantun bersajak a-b-a-b

f. Baris pertama bersajak sama dengan baris ke empat.

4. Jenis-jenis Pantun

a. Pantun agama

Contoh:

Asam kandas asam gelugur

Kedua asam riang-riang

Menangis mayat di dalam kubur

Teringat badan tidak sembahyang

b. Pantun remaja

Adalah pantun yang isinya tentang percintaan atau berkaitan dengan muda-mudi.

Contoh:

Awan berkisar di gunung tinggi

Nyala pelita di taruh minyak

Duduk di mana tuan kini

Hilang di mata di hati tidak

c. Pantun nasihat

Adalah pantun yang berisi petuah atau nasihat

Contoh:

Kayu cendana di atas batu

Sudah diikat dibawa pulang

Adat dunia memang begitu

Benda yang buruk memang terbuang

d. Pantun jenaka

Adalah pantun yang berisi hal-hal lucu yang merupakan hiburan atau sindiran sebagai bahan kelakar.

Contoh:

Elok rupanya pohon belimbing

Tumbuh didekat pohon mangga

Elok rupanya berbini sumbing

Biar marah tertawa juga

e. Pantun sukacita

Contoh:

Elok rupanya kumbang jati

Dibawa itik pulang petang

Tidak terkata besar hati

Melihat ibu sudah datang

f. Pantun teka-teki

Adalah pantun yang berisi teka-teki atau suatu pertanyaan.

Contoh:

Orang mengail ikan gelama

Bulan terang pagi hari

Kalau tuan bijak laksana

Apa binatang keris di kaki

5. Tahapan Menulis Pantun

Tahapan dalam menulis pantun adalah sebagai berikut:

1. Tentukan baris 1 dan 2 sebagai sampiran

2. Hitung jumlah suku kata dan persajakannya

Contoh:

A wan ber ki sar di gu nung ting gi

Ada 10 suku kata

Nya la pe li ta di ta ruh mi nyak

Ada 10 suku kata

Du duk di ma na tu an ki ni

Ada 9 suku kata

Hi lang di ma ta di ha ti dak

Ada 10 suku kata

3. Tentukan baris ketiga dan keempat sebagai isi

4. Gabungkanlah keempat baris itu menjadi pantun yang lengkap.

Awan berkisar di gunung tinggi

Nyala pelita di taruh minyak

Duduk di mana tuan kini

Hilang di mata di hati tidak

Jumat, 20 Mei 2011

SEPENGGAL KEHIDUPAN
                Matahari senja segera meredupkan sinarnya. Berganti dengan gelap dan dinginnya malam. Kesunyian malam melanda hati Djoko yang sejak tadi berdiri mematung menunggu pembeli.  Matanya menatap kosong kedepan. Seolah tak ada lagi harapan dan cita-cita yang ingin dicapainya. Djoko seorang yang pendiam. Tidak suka banyak bicara. Ayahnya seorang yang suka sekali berjudi. Sedang Ibunya adalah seorang buruh cuci. Setiap hari ia hanya berjualan gorengan didekat stasiun sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya.
                Setiap hari, seusai menjajakan gorengan. Djoko pergi kedepan gerbang sekolah. Sekedar untuk melihat dari jauh. Betapa bahagianya, orang-orang yang dapat mencicipi bangku pendidikan.
                “Andai saja aku bisa berada diantara mereka” gumamnya.
               


Senin, 16 Mei 2011

KISAH POHON APel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar
dan anak lelaki yang
senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap
hari. Ia senang memanjatnya
hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran
di keteduhan rindang
daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon
apel itu. Demikian pula
pohon apel, sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah
tumbuh besar dan tidak lagi
bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi
pohon apel. Wajahnya tampak sedih.
Ayo ke sini, bermain-main lagi denganku, pinta
pohon apel itu.
Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan
pohon lagi, jawab anak
lelaki itu, aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku
tak punya uang untuk
membelinya.
Pohon apel itu menyahut, Duh, maaf aku pun tak
punya uang..tapi kau boleh


mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa
mendapatkan uang untuk
membeli mainan kegemaranmu.
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik
semua buah apel yang ada di
pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun setelah
itu, anak lelaki itu tak
pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon
apel sangat senang melihatnya
datang.
Ayo bermain-main denganku lagi, kata pohon apel.
Aku tak punya waktu, jawab anak lelaki itu, Aku
harus bekerja untuk
keluargaku. Kini membutuhkan rumah untuk tempat
tinggal. Maukah kau
menolong-ku?
Duh, maaf aku pun tak punya rumah. Tapi kau boleh
menebang semua dahan
rantingku untuk membangun rumahmu, kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan
ranting pohon apel itu
dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa
bahagia melihat anak lelaki
itu senang. Tapi anak lelaki itu tak pernah kembali
lagi. Pohon apel itu merasa
kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak
lelaki itu datang lagi. Pohon
apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
Ayo bermain-main lagi denganku, kata pohon apel.
Aku sedih, kata anak lelaki itu. Aku sudah tua
dan ingin hidup tenang.
Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau
memberi aku sebuah kapal untuk
pesiar?
Duh, maaf aku tak punya kapal. Tapi kau boleh
memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau.
Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah.
Kemudian anak lelaki itu memotong batang pohon
apel itu dan membuat kapal
yang diidamkannya. Ia lalau pergi berlayar dan tak
pernah lagi datang menemui
pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi
setelah bertahun-tahun
kemudian.
Maaf anakku, aku sudah tak memiliki buah apel
lagi untukmu.
Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk
menggigit buah apelmu.
Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa
kau panjat.
Sekarang aku sudah terlalu tua untuk itu.
Aku benar-benar tak punya apa-apa lagi yang bisa
aku berikan kepadamu.
Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan
sekarat ini, kata pohon
apel sambil menitikkan air mata.
Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang. Aku
hanya membutuhkan tempat
beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama
meninggalkanmu.
Ooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon
tua adalah tempat terbaik
untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah
berbaring di pelukan
akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar
pohon. Pohon apel itu
sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air
matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu
adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah
ibu kita. Ketika kita
tumbuh besar, kita meninggalkan mereka dan hanya
datang ketika kita memerlukan
sesuatu atau ketika kita dalam kesulitan. Tak peduli
apa pun, orang tua kita
akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa
mereka berikan untuk
membuat kita bahagia. Antum mungkin berpikir betapa
anak lelaki itu telah
bertindak sangat kasar pada pohon apel itu. Tapi
begitulah cara kita
memperlakukan orang tua kita.

Sumber: http://yudhim.blogspot.com